The Rise of Muslim Marketing in Indonesia

Baru-baru ini saya tahu kalau Laudya Chintya Bella sekarang memutuskan untuk berhijab, MasyaAllah.. makin cantiiiiiikk betul dia, adem banget liat muka cantik dan berhijab gitu..

Anyway, kali ini sih saya ngga akan ngebahas masalah Bella sih, meskipun sampai sekarang masih kagum banget liat dia yang makin cantik, tapi saya mau bahas masalah “mulai maraknya pasar muslim di Indonesia”. Sejak dua tahun terakhir ini, saya melihat (tepatnya mulai agak perhatian) banyak pelaku industri bisnis moderen mulai serius menggarap pasar kaum muslim di Indonesia. Makin banyak konsep bisnis syar’i dan masyarakat yang menganggap penting label halal di Indonesia. Sebut saja mulai dari bisnis perbankan, industri kecantikan dan fashion, sampai pada bisnis hotel syar’i. Faktor Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi kaum muslim terbesar di dunia mungkin menjadi salah satu alasan mulai banyaknya para pelaku bisnis yang makin serius untuk menggarap segmen ini. Masyarakat muslim di Indonesia juga semakin concern dengan “label islami” yang ingin mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak kaum muslimah yang saat ini mulai berhijab, entah karena mereka memang memahami kalau ini adalah kewajiban setiap muslimah atau sekedar hanya ikut-ikutan trend belaka, lalu perhatian lebih pada label “halal” untuk setiap produk makanan yang akan dikonsumsi, hingga penerapan bisnis yang sesuai syariat Islam.

Pasar muslim di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Ketika perusahaan saya mengadakan pameran beberapa bulan lalu, fyi saya bekerja di salah satu perusahaan pasta gigi yang sangat identik dengan label pasta gigi islami, booth pameran saya didatangi oleh seorang ibu berwajah oriental yang akan membeli produk pasta gigi saya. Si ibu membeli beberapa varian sekaligus, dan dalam jumlah yang bisa dibilang tidak sedikit. Hal ini mengusik rasa penasaran saya, dan akhirnya si ibu saya ajak berbicara, itung-itung bisa buat survey kecil untuk pekerjaan saya.

Saya: “tante ini mau dipake sendiri atau mau dikasiin orang?”

Ibu Oriental: (dengan logat Jawa yang khas) “sebagian besar ta’ pakai sendiri, ya buat persediaan keluarga, kalau yang ini (sambil menunjukkan salah satu varian produk kami) ta’ kasih ke mbaknya yang jaga rumah.”

Saya: “wah, tante ternyata pakai produk ini juga ya? saya pikir ngga semua orang lho tahu tentang manfaat produk ini.”

Ibu Oriental: “lhoo.. aku meskipun non muslim gini ngerti lho mba manfaatnya kayu siwak, cuma susah banget dapetnya, kamu kurang promo juga yaa jadi ta pikir wes gak ono, padahal dulu aku pakai terus. Menurutku, produk halal itu pasti bagus, karena sudah pasti takarannya dan ngga ragu lagi, ngga mungkin kan ada produk halal yang ngga bagus? nanti konsumennya lak ngga mau beli.”

Saya: “wah berarti tante sering ngecek label halal juga ya kalau milih-milih barang?”

Ibu Oriental: “ngga selalu sih, tapi kalau misalnya di satu waktu ada 2 produk yang masih baru terus aku ngga tau apa-apa tentang produknya, yawes milih aja yang ada label halal-nya, luwih pasti dan jelas mbak, gak ragu-ragu.”

Sejak pertemuan saya dengan ibu oriental tersebut, saya jadi makin yakin kalau sebenarnya ngga cuma kaum muslim aja yang concern dengan label halal, bahkan ada beberapa orang yang tidak beragama Islam juga melihat label tersebut, alih-alih untuk melihat kualitas dari produk yang dia beli. Jadi menurut saya, semakin besar saja potensi “pasar muslim” di Indonesia.

Saya semakin yakin dengan potensi ini setelah membaca buku “Marketing To The Middle Class Moslem” karya Yuswohadi. Awalnya buku ini saya beli karena butuh referensi buat pekerjaan saya, eh ternyata malah meyakinkan dugaan awal saya bahwa pasar muslim di Indonesia memang semakin berkembang dan potensinya luar biasa besar. Kita bisa melihat bagaimana sebuah brand kosmetik lokal yang identik dengan kaum muslimah (dulu dianggap kuno dan ngga bisa gaya), bisa “naik kelas” dan memiliki citra positif yang elegan. Masyarakat juga tidak malu untuk menggunakan produk lokal dan halal karena mereka merasa bahwa produk tersebut sesuai dengan karakter mereka yang mulai istiqomah, aktif, dan percaya diri. Di buku itu juga terdapat survey yang telah dilakukan, mengatakan bahwa di Indonesia ini pasarnya agak unik karena semakin tingkat edukasi dan ekonomi seseorang, maka makin perhatian pula mereka terhadap kebutuhan spiritual yang lebih mendekatkan diri ke Sang Pencipta. Intinya sih, makin pinter, makin kaya, makin dekat dengan Tuhannya, sehingga kebutuhan dunia-akhiratnya seimbang, ngga berat sebelah. Jujur, saya masih penasaran banget dengan “market” ini, PR juga buat kerjaan saya sih. Tapi saya yakin sama potensinya yang akan terus berkembang, apalagi kan Indonesia termasuk negara dengan populasi masyarakat muslim terbesar di dunia. Well, tinggal kita lihat aja sih kedepannya inovasi apa yang hadir untuk memenuhi kebutuhan pasar ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s